Qatar Airways Akan Luncurkan First Class

0

brand | stay-connected | female | lady | wifi | qsuite | 38781 | 07_A380 Stay connected girl_FINAL_PREVIEW.jpg

Qatar Airways sedang mengembangkan konsep First Class dan mengejar pesanan pesawat dari raksasa penerbangan Boeing dan Airbus, sebagai bagian dari perombakan strategis yang lebih luas di bawah CEO grup baru Badr Mohammed Al Meer.

“Ini adalah era baru,” kata Al Meer pada hari Kamis, mengungkapkan perubahan di maskapai tersebut setelah tinjauan war room selama berbulan-bulan. Al Meer, yang sebelumnya menjabat sebagai chief operating officer Bandara Internasional Hamad Qatar, mengambil alih posisi pendahulunya Akbar Al Baker sebagai CEO Qatar Airways pada bulan November dan berupaya menyegarkan strategi maskapai dan me-reset hubungan pemasok.

Al Meer mengonfirmasi bahwa Qatar Airways kini sedang mengembangkan konsep First Class dengan hasil tinggi untuk kabinnya.

“Kami ingin menggabungkan pengalaman terbang komersial dan terbang dengan jet pribadi serta mengembangkan sesuatu yang baru,” katanya. “Kami siap 70% hingga 80%. Kami hanya mengerjakan warna dan sentuhan kecil, tapi mudah-mudahan kami bisa mengumumkannya segera.”

Tempat duduk First Class biasanya menawarkan pengalaman yang lebih luas, kualitas premium dan biaya lebih tinggi di dalam pesawat. Beberapa maskapai penerbangan telah meninggalkan, mengurangi atau mengganti nama kursi First Class dalam upaya memaksimalkan ruang pesawat dan menawarkan tempat duduk yang lebih ekonomis bagi pelancong yang memiliki anggaran terbatas.

Bersamaan dengan persiapan proposal First Class, Qatar Airways juga mendesain ulang kursi kelas premium Q-Suite, dan penawaran terbaru ini akan diluncurkan pada International Airshow Farnborough bulan Juli.

Pesanan Baru

Maskapai teluk ini juga telah mengajukan Request for Proposal kepada Boeing dan Airbus untuk pesanan pesawat baru dalam jumlah besar, kata Al Meer.

“Kami merilis RFP untuk menciptakan persaingan antara kedua pemasok,” katanya, tanpa mengungkapkan secara spesifik. “Kami akan melalui prosesnya, dan dengan pesanan sebesar ini, kami perlu meluangkan waktu.”

Al Meer ingin meningkatkan penawaran layanan dan memanfatkan momentum setelah World Cup Qatar, yang membantu maskapai ini menghasilkan rekor laba bersih sebesar $1,21 miliar pada tahun fiskal 2022-23, serta hasil dan faktor muatan tertinggi dalam sejarahnya.

“Pasar yang ingin kami kembangkan adalah China, India, Australia, Jepang, Korea dan beberapa negara lainnya,” kata Al Meer.

Ia secara terpisah menyatakan bahwa permintaan penerbangan di kawasan ini tinggi, dan jumlah penumpang telah meningkat lebih dari 30% dalam empat bulan terakhir, sementara perkiraan pertumbuhan kemungkinan akan lebih stabil di bawah 10%-15%, untuk sisa tahun ini.

Proposal pemesanan pesawat baru ini menyusul perselisihan hukum besar antara Qatar Airways dan Airbus mengenai masalah keselamatan yang disebabkan oleh degradasi cat. Hal ini juga terjadi di tengah krisis kepercayaan yang sedang berlangsung terhadap Boeing setelah jebolnya pintu Max 9 pada bulan Januari yang menimbulkan kekhawatiran atas keselamatan, kontrol kualitas serta penundaan produksi dan pengiriman.

“Kami terkena dampaknya jika pesawat kami tidak dikirim tepat waktu,” kata Al Meer. “Saya tahu Airbus dan Boeing mempunyai masalah tertentu. Kami memiliki kepercayaan penuh pada kedua organisasi tersebut dan mereka cukup kuat untuk mengatasi masalah tersebut.”

Al Meer menekankan bahwa dia memperkirakan akan menerima pesanan Boeing 777X terbaru dari Qatar pada akhir tahun depan, dan menambahkan bahwa dia 110% yakin Boeing membuat pesawat yang aman.

Al Meer juga mengatakan Qatar Airways akan menghentikan rencana Al Baker untuk menghentikan secara cepat pesawat andalan Airbus A380. Saingannya, Emirates, juga mengisyaratkan akan mempertahankan pesawat tersebut, meskipun Airbus mengakhiri produksinya pada tahun 2021.

Langkah Selanjutnya

Al Meer telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi kritik terhadap praktik tempat kerja maskapai tersebut, termasuk melonggarkan aturan jam malam yang kontroversial bagi awak kabin dan membatalkan larangan lama terhadap staf Qatar Airways untuk membagikan foto tempat kerja mereka di media sosial.

“Sangat jelas bahwa kami perlu melakukan beberapa perubahan di sana,” kata Al Meer. “Kami memerlukan staf kami, dan kami ingin maskapai ini menjadi pilihan masyarakat ketika ingin bekerja sama dengan kami.”

Pembaruan strategi ini muncul ketika Qatar Airways menghadapi tekanan baru dari maskapai penerbangan teluk lainnya, seperti Emirates dan Etihad, serta perusahaan baru seperti Riyadh Air dari Arab Saudi, yang juga membeli pesawat untuk bersaing di rute-rute utama di tahun-tahun mendatang.

“Persaingan akan membantu kami meningkatkan standar,” kata Al Meer. “Menurut saya, tekanannya adalah Riyadh Air, mereka harus bersaing dengan yang terbaik dari yang terbaik.”

Al Baker memainkan peran penting dalam membentuk Qatar Airways menjadi maskapai penerbangan global yang menguntungkan. Dia memimpin maskapai ini melewati peristiwa-peristiwa besar termasuk serangan 11 September, krisis keuangan global, perselisihan diplomatik di teluk dan pandemi Covid-19.

Kini, penggantinya ingin membawa maskapai ini ke era baru – dijuluki Qatar Airways 2.0 di mana ia tidak menutup kemungkinan melakukan initial public offering.

“Kami mungkin mempertimbangkannya dalam waktu dekat,” katanya ketika ditanya apakah Qatar Airways mungkin mempertimbangkan untuk go public. Namun dia menekankan bahwa keputusan itu ada di tangan pemangku kepentingan Qatar Airways dan pemerintah Qatar.

(Visited 363 times, 24 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *