Jendela Kokpit Retak Paksa ANA Boeing di Jepang Balik Kanan

0

Sebuah penerbangan domestik Jepang terpaksa berbalik dan mendarat pada hari Sabtu setelah ditemukan retakan pada jendela kokpit pesawat Boeing 737-800 di udara, kata juru bicara maskapai penerbangan.

All Nippon Airways (ANA) penerbangan 1182 lepas landas dari Bandara Sapporp-New Chitose menuju Bandara Toyama, sekitar 1.100 km ke selatan, tetapi berbalik arah setelah retakan ditemukan di bagian terluar dari empat lapisan jendela yang mengelilingi kokpit, juru bicara tersebut mengatakan.

Tidak ada korban luka yang dikabarkan di antara 59 penumpang dan enam awak, menurut juru bicara ANA.

“Retakan itu bukan sesuatu yang memengaruhi kendali atau tekanan penerbangan,” kata juru bicara tersebut.

Pesawat tersebut merupakan model yang berbeda dari pesawat Boeing 737 MAX 9 yang menjadi berita utama dalam beberapa pekan terakhir. Pada tanggal 5 Januari, penutup pintu pesawat Alaska Airlines 737 MAX 9 pecah di udara, yang memaksa pesawat tersebut melakukan pendaratan darurat.

Kabin 737 MAX 9 mengalami penurunan tekanan pada ketinggian sekitar 16.000 kaki ketika penutup pintunya terlepas, menyebabkan baju seorang remaja robek, namun tidak ada korban luka serius yang dikabarkan.

Federal Aviation Administration (FAA) melarang terbang seluruh pesawat 737 MAX 9 setelah insiden tersebut sambil menunggu tinjauan keselamatan. FAA memperpanjang perintahnya pada hari Jumat sampai inspeksi dan pemeliharaan ekstensif dilakukan serta semua data ditinjau.

“Kami berupaya memastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi,” kata Administrator FAA Mike Whitaker, Jumat. “Satu-satunya kekhawatiran kami adalah keselamatan para pelancong Amerika dan Boeing 737-9 MAX tidak akan kembali mengudara sampai kami benar-benar yakin bahwa kondisinya aman.”

Ketua National Transportation Safety Board Jennifer Homendy mengatakan pada hari Senin bahwa insiden tersebut bisa menjadi bencana besar jika terjadi di tempat yang lebih tinggi.

“Jika berpikir tentang ketinggian jelajah sekitar 30.000 atau 35.000 kaki, apa yang terjadi pada saat itu?” kata Homedy. “Pramugari memberikan layanan kepada penumpang. Penumpang berjalan. Orang-orang sudah melepas sabuk pengamannya. Orang-orang berada di toilet. Itu akan menjadi skenario yang jauh berbeda.”

Enam penumpang telah mengumumkan tuntutan hukum terhadap Boeing sejak insiden Alaska Airlines, mengklaim bahwa mereka menderita luka-luka dan mengalami trauma emosional.

Dalam gugatan yang diajukan di negara bagian Washington, para penumpang mengklaim masker oksigen yang dijatuhkan dari langit-langit tidak berfungsi dan mengatakan perubahan tekanan yang cepat menyebabkan telinga berdarah. Beberapa orang mengklaim kejadian itu juga menyebabkan memar.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *